Pengikut

Rabu, 16 November 2011

Refleksi dari Elegi Pemberontakan Para Normatif

Elegi ini menggambarkan salah satu bentuk arogansi para subyek di dunia pendidikan kita terhadap obyek yang semestinya difasilitasi untuk bisa berkembang sesuai dengan potensinya (peserta didik). Fenomena Ujian Nasional (UN) dalam berbagai bentuknya (Ebtanas, UAN, dan UN) telah memberikan dampak yang luar biasa dalam dunia pendidikan kita. Secara yuridis, UN memang hanya merupakan salah satu bentuk pengukuran yang dilakukan oleh pemerintah. Faktanya di lapangan, UN telah membuat semua komponen terkait menjadikannya sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Hal ini dikarenakan hasil UN menjadi penentu kelulusan peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mulai dari orang tua, guru, kepala sekolah, kepala dinas, bahkan kepala daerah semua berusaha menjadikan keberhasilan UN sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan di bidangnya. Orang tua akan sangat senang dan bangga melihat hasil UN putra-putrinya yang bagus. Guru akan sangat bangga apabila bisa mengantarkan anak didiknya meraih sukses dalam UN. Kepala Sekolah akan sangat bangga ketika sekolah yang dipimpinnya mendapatkan hasil terbaik dalam UN. Kepala Dinas pun demikian. Sebaliknya mereka akan merasa sangat terpuruk apabila hasil UN tidak sesuai dengan harapannya. Dalam keadaan yang seperti ini akan terjadi sebuah kondisi yang saling menyalahkan. Guru menjadi obyek kemarahan kepala sekolahnya. Kepala sekolah menjadi obyek kemarahan kepala dinas. Kepala dinas menjadi obyek kemarahan pimpinannya, demikia seterusnya. Inilah dampak luar biasa dari fenomena UN dalam dunia pendidian kita. Proses pembelajaran yang telah berlangsung 3 atau 6 tahun sebelumnya hanya ditentukan keberhasilannya dengan UN. Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang wajar apabila banyak upaya-upaya (bahkan beberapa semestinya tidak dilakukan oleh sebuah institusi pendidikan)  untuk meraih sukses dalam kegiatan itu.
Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan seputar pelaksanaan UN, sudah semestinya paradigma UN di ubah dan dikembalikan seperti yang tercantum dalam peraturan pemerintah, yaitu sebagai salah satu pengukuran saja yang dilakukan secara nasional. Dengan demikian UN hanya dilaksanakan sebagai salah satu bentuk standarisasi tanpa menjadikannya sebagai salah satu penentu kelulusan peserta didik.

Refleksi Elegi Pemberontakan Para Obyek

Semua yang ada dan yang mungkin ada dalam kehidupan ini pada hakekatnya berkenaan dengan hubungan antara subyek dan obyek. Keduanya merupakan dua hal yang selalu ada dan harus ada mengiringi semua yang ada dan yang mungkin ada. Jika salah satu tidak ada maka tiadalah yang lainnya. Seseorang di sebut kaya karena ada orang lain yang disebut miskin dan sebaliknya. Seseorang dikatakan tua karena ada orang lain yang dikatakan muda, demikian seterusnya. Oleh karena itu subyek dan obyek harus melaksanakan tugas dan kewajibannya masing-masing secara proporsional sehingga tidak saling meniadakan satu dengan lainnya. Keduanya harus saling bekerja sama. Si kaya harus membantu si miskin demikian sebaliknya, si kuat juga harus membantu si lemah, dan seterusnya.
Semua yang ada dan yang mungkin ada dalam kehidupan ini bisa sekaligus menjadi subyek dan obyek bergantung pada ruang dan waktu. Sebagai contoh seorang warga yang berprofesi sebagai guru dan menjadi ketua RW serta menempuh studi lanjutan. Sebagai ketua RW dia adalah subyek dengan warga di sekitarnya sebagai obyeknya, tetapi dia sekaligus menjadi obyek bagi kepala dusunnya. Sebagai guru dia adalah subyek bagi muridnya, tetapi merupakan obyek bagi kepala sekolah dan bagi dosen di mana dia menempuh studi lanjutnya.
Elegi ini memberikan sebuah pelajaran bagi kita semua bahwa pada hakekatnya kita semua bisa berperan sebagai subyek dan sekaligus obyek dalam kehidupan ini. Dan setinggi-tingginya subyek dalam kehidupan ini adalah Tuhan Yang Maha Kuasa yang menguasai seluruh dunia beserta isinya. Dan setinggi-tingginya peran sebagai obyek dalam kehidupan ini adalah keinginan kita untuk terus maju dan berkembang dalam naungan ridho-Nya.

Refleksi Elegi Ketika Sekali Lagi Pikiranku Tak Berdaya

Fatamorgana merupakan sesuatu yang bersifat kabur (tidak jelas). Semua yang ada dan yang mungkin ada dalam kehidupan ini bisa menjadi sebuah fatamorgana yang kita tidak akan mampu memecahkannya. Dia bisa tinggal dalam hati dan pikiran kita, ataupun di luar keduanya. Meski demikian keduanya (hati dan pikiran) tidak akan mampu memecahkan semuanya karena keterbatasan yang ada pada diri kita.
Elegi ini memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua agar dalam menghadapi segala permasalahan hidup ini, mulai dari yang sederrhana hingga yang bersifat kompleks, hendaknya selalu bersandar dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Disamping itu elegy ini juga mengajarkan kepada kita agar senantiasa bersikap rendah diri dan tidak sombong dalam menjalani kehidupan. 

Senin, 14 November 2011

Mempertemukan logika dan pengalaman untuk membangun filsafat

Berfilsafat berarti melakukan kegiatan refleksi diri terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada. Ini berarti obyek filsafat meliputi semua yang sudah kita ketahui (lakukan) dan yang mungkin akan kita lakukan (kita ketahui/pelajari).  Oleh karena itu dalam kegiatan membangun filsafat, diperlukan luruhnya EGO yang ditandai dengan kerendahan hati untuk mengevaluasi semua yang sudah kita lakukan (ketahui), termasuk di dalamnya semua kelebihan dan kekurangannya.
Dalam kegiatan membangun filsafat, kita harus melakukannya secara menyeluruh, mendasar, dan bahkan spekulatif. Berfilsafat dilakukan secara menyeluruh, dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Membangun filsafat juga harus dilakukan secara mendasar mecakup apa? bagaimana? dan mengapa? kita melakukan dan akan melakukannya. Disamping dua hal itu, membangun filsafat juga bersifat spekulatif, artinya kita memulainya dengan sebuah spekulasi, kemudian menentukan buah pikiran yang dapat digunakan yang merupakan titik awal penjelajahan kita terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada.
Sesuai dengan hakekat membangun filsafat sebagai kegiatan refleksi diri secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif, maka sangatlah diperlukan sebuah penalaran, yaitu suatu proses berpikir dalam menarik sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Pengetahuan yang digunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber pada rasio dan fakta/pengalaman.
Penalaran yang bersumber pada rasio didasarkan pada logika berpikir yang deduktif, yaitu sebuah metode penarikan kesimpulan yang mendasarkan pada premis-premis (silogisme). Contoh penalaran dengan cara ini adalah pernyataan "jika matematika itu tunggal maka tidak konsisten" yang merupakan kesimpulan dari premis 1: "jika matematika itu tunggal maka tidak lengkap" dan premis 2: "jika matematika tidak lengkap maka ia tidak konsisten".
Penalaran yang bersumber pada fakta/pengalaman didasarkan pada logika berpikir yang induktif, yaitu sebuah penarikan kesimpulan yang didasarkan pada kasus-kasus khusus (fakta-fakta/pengalaman). Kelemahan metode ini adalah tidak ada jaminan konsistensi terhadap kesimpulan yang dihasilkan. Suatu kumpulan fakta/pengalaman atau hubungan antara fakta/pengalaman belum bisa menjamin terbentuknya sebuah pengetahuan yang sistematis. 
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa dalam membangun filsafat diperlukan sebuah sarana berpikir (penalaran) yang disebut logika, meliputi deduktif (rasio) dan induktif (fakta/pengalaman).

Baca: Salam dari Thailand

Kamis, 10 November 2011

Refleksi Elegi Ritual Ikhlas II: Tanya jawab pertama perihal Hati yang Ikhlas

Semua amal (perbuatan) itu tergantung pada niatnya. Kalimat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kunci sukses menggapai ikhlas dalam beribadah adalah niat yang ikhlas. Niat yang ditujukan semata-mata untuk menggapai ridho-Nya. Niat-niat lain yang tidak ditujukan untuk-Nya seperti riya (pamer), ingin dipuji dan sebagainya yang kadang atau bahkkan sering menyusup harus kita kurangi atau hilangan agar kita benar-benar mendekati niat yang benar. Untuk ini, seharusnya kita selalu memulai dan mengakhiri segala aktivitas kita dengan berdo'a memohon ampunan dan perlindungan Allah dari segala godaan yang bisa menyimpangkan niat kita untuk semata-mata menggapai ridho-Nya.
Semoga kita diberi kekuatan untuk terus berusaha dan berdo'a mendekati hati yang benar-benar ikhlas.

Baca: Elegi Ritual Ikhlas II: Tanya jawab pertama perihal Hati yang Ikhlas

Refleksi Elegi Ritual Ikhlas II: Cantraka Hitam Menguji Ilmu Hitamnya

Dalam perjalanannya menggapai dimensi IKHLAS, kita tidak akan terlepas dari gangguan yang bisa mengurangi bahkan menghilangkan kadar keikhlasan itu. Dari berbagai arah dan dengan berbagai cara gangguan itu akan datang memberikan tawaran-tawaran yang menggiurkan yang sebenarnya akan mengurangi bahkan menjauhkan kita dari ikhlas. Untuk menangkal gangguan-gangguan itu kita harus terus menerus mendekatkan diri dengan-Nya melalui do'a-do'a.
Elegi ini juga mengajarkan kepada kita untuk tidak putus asa dalam menggapai dimensi ikhlas. Sudah menjadi kodrat bahwa kta tidak pernah terlepas dari salah, khilaf dan dosa. Namun demikian kita tidak boleh pasrah dan terpuruk oleh keadaan ini. Jika kita bersungguh-sungguh untuk memperbaikinya, maka sesungguhnya Allah itu maha luas maaf-Nya.
Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita dan kita benar-benar termasuk golongan yang tidak pernah putus asa dalam usaha mendekati dimensi ikhlas ini. 

Baca: Elegi Ritual Ikhlas II: Cantraka Hitam Menguji Ilmu Hitamnya: Elegi Ritual Ikhlas II: Cantraka Hitam Menguji Ilmu Hitamnya

Refleksi Elegi Ritual Ikhlas I: Cantraka Sakti belum Ikhlas

Dimensi IKHLAS pada seseorang tidak akan pernah bisa didekati atau dicapai apabila hati dan pikiran belum bersih (suci) dan masih ada kesombongan di dalamnya.
Derajat keikhlasan seseorang hanya dipengaruhi oleh hati dan pikiran, bukan yang lainnya seperti tingkat pendidikan, pangkat/jabatan bahkan kekayaan lainnya yang dimiliki. 

Baca: Elegi Ritual Ikhlas I: Cantraka Sakti belum Ikhlas: Elegi Ritual Ikhlas I: Cantraka Sakti belum Ikhlas

Refleksi Elegi Ritual Ikhlas I: Persiapan teknis

Begitu berat menggapai yang namanya IKHLAS...
Melalui elegi ini setidaknya kita semua menjadi ingat dan sadar bahwa apa yang kita lakukan, baik dalam hubungannya dengan Tuhan (vertikal) maupun dengan sesama makhluk ciptaan-Nya (horisontal) harus terus-menerus menuju sebuah dimensi tertinggi dalam beribadah yaitu IKHLAS, dimana semua yang kita lakukan semata-mata mengharap ridhlo dari Allah SWT.

Baca: Elegi Ritual Ikhlas I: Persiapan teknis

Refleksi Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal

"Ikhlas" merupakan salah satu kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit diiplementasikan. Jika kita tidak melakukan sesuatu karena takut akan sesuatu apakah ini bisa dikatakan ikhas? Apakah yang kita lakukan semata-mata karena akan mendapat sesuatu itu juga sebuah ke-ikhlasan? Dan masih banyak lagi pertanyaa-pertanyaan terkait dengan masalah ikhlas ini. Yang harus kita lakukan untuk ini hanyalah selalu belajar dan belajar untuk bisa ikhlas. Ikhlas dalam beribadah (wajib maupu sunat), dan juga ikhlas dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kita sebagai makhluk multi peran. 


Baca: Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 7: Structuralism Mathematics

Matematika murni dibangun di atas 3 pilar, yaitu: logicism mathematics, formalism mathematics, dan structuralism mathematics. Matematika yang hanya dibangun dengan 3 pilar ini memilki obyek yang abstrak (di alam pikir). Mateatika yang seperti ini hanya cocok untuk orang-orang dewasa yang sudah bisa berpikir secara formal tanpa bantuan benda-benda nyata (kongkrit).
Dalam dunia pendidikan dasar dan menengah, matematika yang hanya dibangun berdasarkan 3 oiar tersebut sangat tidak cocok diterapkan. Hal ini dikarenakan anak-anak pada usia pendidikan dasar dan menengah rata-rata belum mampu berpikir formal (abstrak). Untuk mengatasi hal ini diperlukan sebuah strategi, metode, dan pendekatan yang tepat sehingga obyek matematika yang abstrak itu bisa terlihat lebih nyata (kongkrit) sehingga lebih mudah untuk dipelajari dan dipahami oleh peserta didik.
Pemaksaan 3 pilar matematika murni ke dalam pembelajaran matematika di sekolah (dasar dan menengah) bisa mengakibatkan muncul pandangan/sikap sebagian besar peserta didik yang menilai bahwa mateatika itu sulit, menakutkan dan sebagainya. Keadaan seperti ini yang berlarut-larut dari waktu ke waktu bisa mengakibatkan rendahnya hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran matematika.
Oleh karena itu, pembelajaran matematika di sekolah (dasar dan menengah) seharusnya disajikan dengan lebih kongkrit dengan bantuan benda-benda nyata yang sesuai, disamping harus menyenangkan, dalam arti ada keterlibatan secara aktif dari peserta didik dalam proses pembelajaran.

Baca: Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 7: Structuralism Mathematics

Senin, 31 Oktober 2011

Elegi Ritual Ikhlas IV: Menemukan Ruh

Berjumpa dan memandang wajah Rasullullah adalah harapan seluruh umat manusia.
Semoga Allah memberi petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk terus memegang teguh kesaksian dalam kalimat "Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasullullah" sehingga kelak kita benar-benar mendapat kesempatan untuk bisa berkumpul dan bersatu dengan Beliau beserta seluruh umatnya. Amiiin.

Baca: Elegi Ritual Ikhlas IV: Menemukan Ruh

Refleksi dari Elegi Menggapai Dasar Gunung Es

Gunung Es dalam elegi ini menggambarkan sebuah ILMU yang harus kita pelajari.
Kita tidak akan bisa menaklukkan gunung es itu (mendakinya sampai puncak atau menyelami hingga dasarnya). Ini menggambarkan bahwa hingga kapan pun kita tidak akan pernah bisa menguasai semuanya. Yang ada hanyalah mendekatinya sampai batas pikiran kita. Mendekati pun harus dengan segenap daya dan upaya, bahkan mutlak diperlukan sebuah kejujuran dan pengorbanan. Mengapa demikian, karena dia adalah sebuah GUNUNG ES di tengah samodra yang sangat luas bahkan tanpa batas. 
Dari gambaran fisiknya, ilmu ibarat gunung es. Oleh karenanya jika kita ingin menaklukkannya, maka kita harus mencairkannya. Ya, kita harus mencairkan SIKAP dan EGO kita. Dalam kondisi seperti ini maka kita akan bisa menggunakan akal sehat dan pikiran kritis kita untuk menemukan hakekat ilmu itu, cara memperoleh ilmu itu, dan manfaat dari ilmu itu. Inilah sebenar-benar yang bisa kita lakukan, itu pun tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, karena kesemupurnaan itu mutlak hanya milik-Nya.

Baca: Elegi Menggapai Dasar Gunung Es

Refleksi dari Elegi Menggapai Ramai

Suara 1 hingga Suara 9 dalam elegi ini menggambarkan tingkatan aktivitas hidup manusia yang berkaitan dengan pencitpta-Nya, yaitu Allah SWT Tuhan Semesta Alam.
Menurut saya, hubungan seseorang dengan Tuhan-Nya tidak akan serta merta sampai pada level 9 seperti yang digambarkan oleh suara 9, tetapi itu akan berjalan mengikuti tingkatan-tingkatan tersebut. Yang membedakan dari setiap tingkatan itu adalah ILMU yang dimilikinya (yang dalam elegi ini disebut dengan kalimat "...sampai batas pikiranku).
Dalam perjalanannya, memang kita harus menuju pada level 9 dimana hubungan kita dengan-Nya berlangsung dengan sepenuh HATI, JIWA dan RAGA. Untuk itu kita harus senantiasa meningkatkan pengetahuan yang ada di batas pikiran kita yaitu ILMU.

Baca: Elegi Menggapai Ramai

Sabtu, 22 Oktober 2011

Refleksi dari Elegi Menggapai Hati

Segala aktivitas yang kita lakukan tanpa kita memikirkannya dengan dasar ILMU akan menjadi MITOS belaka. Agar terhindar dari hal ini maka kita harus menggunakan pikiran dan mengendalikannya dengan HATI yang jernih. Dengan kondisi ini maka kita akan terhindar dari segala macam pikiran dan rasa kawatir, sehingga kita  bisa menjalani aktivitas kehidupan ini dengan penuh IHLAS, KHUSYUK, dan TAWADU' serta terhindar dari perasaan SOMBONG yang akan mengotori HATI.
Elegi ini memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita semua agar dalam setiap aktivitas kehidupan kita semata-mata hanya untuk menggapai ridho-Nya.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang demikian adanya dan terhindar jauh sebagai GURU MITOS, MAHASISWA MITOS, dan segala macam bentuk MITOS lainnya.

Baca: Elegi Menggapai Hati

Refleksi dari Elegi Bagaimana Matematikawan Dapat Mengusir Syaitan?

Elegi ini memberikan pelajaran kepada kita dalam mengatsai masalah/kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan.
Semua manusia dalam menjalani hidupnya di duia ini tidak akan terlepas dari berbagai masalah/kesulitan mulai dari yang sederhana hingga yang sangat kompleks. Semua masalah/kesulitan ini harus kita selesaikan dengan cara yang CERDAS menggunakan ILMU dan AKAL, sebagai salah satu keistimewaan rahmat yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia.
Disamping itu, menyelesaikan masalah dalam kehidupan ini harus dilakukan dengan penuh IHLAS, RENDAH HATI (tidak sombong), dan TAWAKAL kepada Yang Esa, Allah SWT.

Baca: Elegi Bagaimana Matematikawan Dapat Mengusir Syaitan?

Jumat, 21 Oktober 2011

Refleksi dari Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar

Rumah besar dalam elegi ini menurut saya bisa berbentuk apa saja, dari semua yang ada dan yang mungkin ada. Dia hanyalah sebuah kiasan untuk menggambarkan sebuah wadah dan isi saja. Bahkan hati kita yang kecil pun dapat menjadi rumah besar yang digambarkan dalam elegi ini.
Pelajaran yang bisa diambil dari elegi ini adalah bahwa kita harus mengerti dan bertanggungjawab atas apa yang menjadi tugas dan kewajiban di mana kita berada, sehingga semua bisa berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan tujuan yang akan dita capai dalam membangun sesuatu pada diri kita.
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang punya banyak peran (multi peran) dalam hidupnya. Dia bisa berperan sebagai ayah/ibu (dalam keluarga), sebagai guru (di sekolah), sebagai mahasiswa (di kampus), sebagai pengurus sebuah organisasi (di masyarakat) dan mungkin lebih banyak lagi peran-peran lainnya yang harus dilaksanakan. Bukankah sosok seseorang itu bisa juga digambarkan sebagai rumah besar? Dan peran-peran yang harus dilaksanakannya sebagai isi rumah itu? Dalam kondisi yang seperti ini kita tidak bisa hanya melaksanakan satu peran saja dengan mengabaikan peran-peran yang lain. Semua peran itu harus dilaksanakan sebagaimana mestinya sesuai tujuannya.
Semoga kita bisa menjalani semua dengan penuh keihlasan di bawah petunjuk-Nya.

Baca: Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar